Borneonusantara.com – Nama Kalimantan mungkin tidak seviral Batavia atau Malaka dalam buku-buku sejarah kolonial. Tapi jangan salah, pulau terbesar di Indonesia ini juga jadi incaran Belanda sejak lama—apalagi aroma rempah dan hasil tambang di Borneo bisa bikin mata para pedagang VOC berkilat seperti habis lihat diskon besar-besaran.
Kehadiran Belanda di Kalimantan memang tidak secepat atau segencar di Jawa, tapi begitu mereka mendarat, petanya berubah. Mulai dari kontrol perdagangan, campur tangan politik lokal, sampai pembentukan pos dagang yang perlahan menjelma jadi pusat kekuasaan.
Nah, pertanyaannya: di mana dan kapan sih sebenarnya Belanda pertama kali mendarat di Kalimantan? Yuk kita gali, tapi santai aja—karena sejarah juga bisa dikemas kayak cerita petualangan yang seru!
Awal Mula Jejak Pertama VOC di Borneo
Menurut catatan sejarah, misi VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mulai menjejakkan kaki di Kalimantan sekitar awal abad ke-17, tepatnya sekitar tahun 1607–1609. Mereka tidak langsung membangun benteng megah seperti di Batavia, tapi mulai dengan pendekatan dagang di kawasan pesisir—terutama Banjarmasin dan Kutaraja (sekarang Martapura).
Banjarmasin saat itu merupakan pusat Kesultanan Banjar, wilayah yang strategis karena aksesnya ke sungai-sungai besar di Kalimantan Selatan. Belanda melihat potensi besar di sini: rotan, kayu ulin, damar, dan tentu saja, hasil tambang seperti batu bara dan emas yang menggoda.
Dalam dokumen Belanda yang disimpan di Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief), disebutkan bahwa kedatangan VOC pertama kali bukan untuk menguasai, melainkan untuk mengamankan jalur dagang dari saingan berat mereka: Portugis dan Inggris.
Niat Dagang, Tapi Bawa Meriam
Meski awalnya mengaku hanya ingin berdagang, VOC datang dengan kapal bersenjata dan sistem kontrak dagang yang sering kali “berat sebelah”. Sultan Banjar waktu itu—yang sedang berjuang menjaga pengaruhnya dari serangan internal dan eksternal—terpaksa menerima keberadaan mereka.
“Kerja sama antara VOC dan kerajaan lokal awalnya berbentuk kontrak dagang, namun seiring waktu berkembang jadi dominasi politik,” tulis sejarawan Dr. Iwan Supardi dalam kajian Sejarah Politik VOC di Kalimantan.
Pada akhirnya, VOC menempatkan pengaruhnya di beberapa pelabuhan penting, dan mulai ikut campur dalam urusan internal kerajaan, termasuk suksesi kepemimpinan. Gaya khas Belanda: masuk perlahan, mengakar dalam.
Borneo, Ladang Kaya Tapi Tak Semudah Jawa
Meski Kalimantan punya kekayaan alam luar biasa, Belanda mengalami tantangan besar di sini. Alamnya liar, suku-sukunya tangguh dan sangat mengenal medan. Tidak semua wilayah bisa mereka kuasai. Bahkan, beberapa wilayah di pedalaman tetap bebas dari kontrol VOC hingga berabad-abad kemudian.
Di sinilah menariknya Kalimantan dibanding daerah lain. Banyak komunitas adat yang tetap teguh mempertahankan identitasnya, dan tidak tunduk pada kekuasaan kolonial secara langsung. Belanda memang hadir, tapi tak bisa menjamah semuanya.
Meskipun kehadiran Belanda di Kalimantan tidak sebesar di Jawa atau Sumatera, pengaruh mereka tetap meninggalkan jejak. Dari sistem dagang, pengaruh politik, hingga infrastruktur awal yang mereka bangun, semua itu membentuk dinamika sejarah Kalimantan hingga hari ini.
Dan ya, penting untuk kita tahu bahwa penjajahan tidak hanya soal “apa yang direbut”, tapi juga “bagaimana mereka datang”—termasuk di Kalimantan, di mana penjajahan datang perlahan, lewat dagang, lalu merambat jadi pengaruh politik.






