BALIKPAPAN – Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan berhasil menunjukkan daya saing di panggung nasional melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.
Tak hanya mendapat perhatian dari sejumlah tokoh nasional, tiga UMKM binaan di sektor wastra dan ready to wear juga mencatatkan total penjualan lebih dari Rp80 juta selama empat hari pelaksanaan pameran.
KKI 2026 digelar pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, kegiatan ini menjadi ruang bagi UMKM untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat jejaring bisnis.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, keikutsertaan UMKM binaan dalam KKI merupakan bagian dari strategi untuk memperluas eksposur produk lokal hingga pasar nasional dan internasional.
“Keikutsertaan ini menjadi momentum penting bagi UMKM mitra KPwBI Balikpapan untuk memperkenalkan kekayaan produk kreatif Kalimantan Timur sekaligus menunjukkan bahwa produk daerah memiliki kualitas, desain, dan cerita yang mampu tampil di panggung nasional,” ujar Robi, Senin (24/8/2026).
Dalam ajang tersebut, KPwBI Balikpapan membawa lima UMKM mitra dan binaan. Tiga di antaranya merupakan UMKM sektor wastra dan ready to wear, yakni Batik Sekar Buen, Batik Poyung, dan Batik Zahro.
Sementara sektor makanan dan minuman diwakili Salakilo dan Kampoeng Timur.
Produk wastra Kalimantan Timur mendapat perhatian dari sejumlah tokoh nasional dan pejabat yang mengunjungi stan KPwBI Balikpapan. Di antaranya Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Timur Hj. Syarifah Suraidah Rudy Mas’ud atau Bunda Harum, Menteri Keuangan Republik Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa, serta Komisaris Utama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk Agus D.W. Martowardojo.
Robi menyebut perhatian tersebut menjadi peluang strategis untuk memperkenalkan identitas serta kekayaan budaya Kalimantan Timur kepada pasar yang lebih luas.
“Capaian ini sekaligus menjadi bukti bahwa UMKM di wilayah kerja KPwBI Balikpapan terus menunjukkan peningkatan kualitas dan daya saing produk atau naik kelas,” katanya.
Batik Poyung, misalnya, menghadirkan busana siap pakai, kain batik, scarf, hingga tas kerajinan berbahan batik tulis dengan tema Ampiek yang diproduksi secara handmade.
Batik Zahro menampilkan wastra, ready to wear, dan aksesori fesyen dengan inovasi pewarna alami yang memanfaatkan limbah kayu bangkirai.
Sedangkan Batik Sekar Buen dari Kabupaten Penajam Paser Utara membawa kekayaan alam dan budaya Borneo melalui motif khas, seperti burung enggang, rusa sambar, dan anggrek hitam.
Menurut Robi, keberhasilan ketiga UMKM tersebut lolos dan tampil di KKI 2026 merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan oleh KPwBI Balikpapan.
Salah satunya melalui workshop studi tiru pada 2025 di Solo, Jawa Tengah, yang melibatkan 15 UMKM wastra dan ready to wear. Materi pelatihan meliputi inovasi desain dan motif, pemanfaatan pewarna alami, penghitungan biaya dan harga pokok produksi (HPP), desain busana kekinian, hingga penguatan pemasaran.
Pembinaan kemudian dilanjutkan pada awal 2026 dengan fokus pada pengembangan desain dan motif wastra serta ready to wear. Penguatan kapasitas tersebut turut meningkatkan kualitas produk hingga akhirnya tiga UMKM binaan berhasil lolos kurasi KKI 2026.
“Dengan inovasi desain dan kreasi motif yang berorientasi pada kebutuhan serta selera pasar, UMKM mampu memperluas akses pasar secara lebih luas,” jelas Robi.
Tidak hanya wastra, UMKM sektor makanan dan minuman juga mendapat kesempatan memperluas pasar melalui kegiatan business matching.
Salakilo dan Kampoeng Timur mengikuti penjajakan bisnis secara luring dengan enam calon pembeli potensial dari Australia, China, Taiwan, Afrika, Amerika, dan Singapura.
Fasilitasi tersebut diharapkan membuka peluang transaksi dan kerja sama bisnis sekaligus mendorong produk UMKM binaan KPwBI Balikpapan menembus pasar ekspor.
“Business matching ini diharapkan dapat membuka peluang transaksi dan kerja sama, memperluas akses pasar domestik maupun ekspor, serta meningkatkan kesiapan UMKM binaan untuk memenuhi kebutuhan dan standar pasar yang lebih luas,” ujar Robi.
KKI 2026 merupakan penyelenggaraan ke-11 yang melibatkan lebih dari 550 UMKM secara luring. Sementara melalui platform digital KKI, lebih dari 1.300 UMKM turut berpartisipasi.
Bank Indonesia juga menghadirkan 44 rangkaian kegiatan, mulai dari talkshow ekonomi dan keuangan inklusif, pagelaran karya kreatif, business matching pembiayaan dan ekspor, hingga showcase UMKM unggulan.
Robi berharap capaian UMKM binaan KPwBI Balikpapan di ajang tersebut dapat menjadi pemacu bagi pelaku usaha lokal lainnya untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya.
“Partisipasi dalam KKI bukan hanya sarana promosi, tetapi momentum untuk meningkatkan kualitas produk, memahami kebutuhan pasar, memperkuat jejaring usaha, dan meningkatkan daya saing agar UMKM terus naik kelas,” pungkasnya.
Meski pameran langsung di JICC telah berakhir, masyarakat masih dapat mendukung produk UMKM peserta KKI 2026 melalui kanal penjualan daring Karya Kreatif Indonesia.
Dengan transaksi lebih dari Rp80 juta serta terbukanya peluang pasar internasional, UMKM binaan KPwBI Balikpapan membuktikan produk kreatif Kalimantan Timur memiliki potensi untuk bersaing, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di pasar global.






