JAKARTA Borneo Nusantara– Upaya menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045 masih menghadapi tantangan besar, terutama persoalan malnutrisi pada anak yang berdampak pada tingginya angka stunting di berbagai daerah.
Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa intervensi nutrisi yang tepat dapat memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan status gizi anak Indonesia.
“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik,” ujar Akbar Bahar.
Pernyataan tersebut merujuk pada hasil penelitian bertajuk A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy yang dipresentasikan pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
Penelitian tersebut mengevaluasi dampak penggunaan Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula (NDF) bagi anak-anak yang mengalami masalah gizi.
Hasilnya menunjukkan intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting hingga 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight mencapai 51,7 persen.
“Intervensi nutrisi bukan sekadar program bantuan pangan. Ini adalah investasi kesehatan masyarakat yang memberikan manfaat besar, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi,” tegas Akbar.
Menurut hasil kajian, penerapan PKMK secara luas diperkirakan mampu mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight di Indonesia.
Tak hanya memperbaiki status gizi, penelitian tersebut juga menunjukkan penurunan risiko berbagai penyakit infeksi yang sering menyerang anak dengan kondisi gizi kurang.
Model penelitian memperkirakan angka kasus tuberkulosis (TB) dapat ditekan hingga 47,2 persen dan pneumonia sebesar 44,7 persen. Selain itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan dua juta kasus.
Dari sisi ekonomi kesehatan, manfaat yang dihasilkan juga dinilai sangat besar. Pengurangan kasus penyakit berpotensi menghemat biaya pengobatan hingga triliunan rupiah.
Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menilai hasil penelitian tersebut menjadi bukti penting bahwa kebijakan nutrisi perlu didukung data ilmiah yang kuat.
“Intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya mencegah dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga mampu mengurangi beban biaya pengobatan di masa mendatang,” kata Ray.
Meski demikian, ia mengingatkan penggunaan PKMK harus sesuai regulasi dan didasarkan pada bukti klinis serta ekonomi yang memadai agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kelompok yang membutuhkan.
Di tengah upaya pemerintah menekan angka stunting nasional, berbagai inovasi nutrisi dalam negeri mulai mengambil peran. Salah satunya melalui produk PKMK yang dirancang untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi anak berisiko gagal tumbuh, gizi kurang, maupun gizi buruk.
Momentum Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat bahwa pemenuhan hak gizi anak merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial. Dengan intervensi yang tepat dan akses nutrisi yang semakin baik, peluang menghadirkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045 semakin terbuka lebar.








