Jangan Sampai Salah Langkah, Bunda! Ini Usia Ideal Anak Dikasih Gadget

Kapan Anak Boleh Pegang Gadget? Ini Usia Ideal Menurut Ahli!

Lifestyle271 Views

Borneonusantara.com – Pemandangan anak-anak balita yang jari-jarinya lebih lincah geser layar daripada pegang sendok, sudah jadi hal lumrah hari ini. Mulai dari anak usia dua tahun yang sudah bisa buka YouTube, sampai yang belum lancar ngomong tapi udah lihai pilih playlist lagu.

Ajaib? Iya. Mengkhawatirkan? Bisa jadi.

Di tengah kemudahan digital, banyak orang tua merasa dilematis. Di satu sisi, gadget bisa membantu edukasi dan hiburan. Di sisi lain, terlalu dini mengenalkan gadget bisa berdampak ke kesehatan mental, fisik, dan sosial anak.

Lantas, sebenarnya berapa usia ideal anak dikasih gadget? Yuk, bahas tanpa menyalahkan, tapi tetap rasional.

Kata Ahli, Boleh Tapi Ada Aturannya

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali. Untuk anak usia 2–5 tahun, durasi screen time maksimal 1 jam per hari, dengan pengawasan orang tua.

dr. Meta Hanindita, Sp.A (K), dokter spesialis anak dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengatakan, “Bukan soal boleh atau tidak, tapi kapan dan bagaimana mengenalkan gadget ke anak itu yang penting.”

Pada usia 6 tahun ke atas, anak mulai bisa diperkenalkan pada gadget untuk keperluan belajar dan komunikasi, asalkan tetap ada batasan waktu, konten, dan dampingan dari orang tua. Jangan dilepas bebas tanpa filter, apalagi kalau tujuan utamanya cuma “biar anak anteng”.

Apa Dampaknya Jika Anak Diberi Gadget Terlalu Dini?

Meski kelihatan anteng dan tidak rewel, anak yang terlalu lama bermain gadget bisa mengalami gangguan konsentrasi, keterlambatan bicara, hingga kurangnya kemampuan bersosialisasi. Selain itu, paparan cahaya biru dari layar juga dapat mengganggu kualitas tidur.

Dalam studi oleh Journal of Developmental & Behavioral Pediatrics, disebutkan bahwa anak usia dini yang terbiasa menggunakan gadget secara bebas, cenderung menunjukkan gejala gangguan perilaku dan emosi lebih tinggi dibandingkan yang screen time-nya terkontrol.

Belum lagi risiko konten tidak sesuai usia dan iklan tersembunyi yang bisa masuk kapan saja. Gadget bukan “nanny digital” yang bisa diandalkan untuk menenangkan anak sepanjang hari.

Strategi Bijak: Bukan Melarang, Tapi Mendampingi

Daripada melarang total, lebih efektif jika orang tua jadi partner digital anak. Tonton bareng, ngobrol soal apa yang mereka lihat, dan sesekali arahkan ke konten edukatif. Batasi juga pemakaian gadget saat makan, menjelang tidur, dan waktu berkumpul keluarga.

Coba ajak anak melakukan aktivitas lain yang juga menyenangkan seperti menggambar, bermain peran, atau berkebun kecil di rumah. Jangan sampai gadget jadi satu-satunya sumber hiburan dan eksplorasi mereka.

Kalau sudah waktunya sekolah daring atau komunikasi dengan guru, barulah gadget bisa dikenalkan dengan porsi sesuai kebutuhan. Bukan untuk hiburan 24 jam nonstop.

Usia ideal anak dikasih gadget bukan cuma soal angka, tapi kesiapan anak dan kesadaran orang tua. Mengenalkan teknologi itu penting, tapi jangan sampai jadi pelarian agar anak tidak rewel. Karena, dampaknya bisa lebih panjang dari yang kita kira.

Gadget itu alat, bukan pengganti perhatian orang tua. Jadi, yuk kita jadi pendamping digital yang bijak buat anak-anak kita!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *