Borneonusantara.com – Di antara riuhnya kuliner Indonesia yang makin hari makin viral, dari seblak meledak sampai cilok isi keju, ternyata ada satu sajian khas dari jantung hutan Kalimantan yang diam-diam mencuri perhatian: Sate Payau. Bukan dari daging sapi, kambing, atau ayam. Tapi… daging rusa liar.
Eits, jangan langsung heboh. Ini bukan sekadar makanan ekstrem. Sate Payau punya sejarah, tradisi, dan cita rasa yang sudah mengakar dalam budaya masyarakat Dayak di Kalimantan. Tapi ya, harus diakui, mendengar kata “daging rusa” pertama kali memang bikin alis terangkat.
Yuk, kita kulik tuntas: kenapa Sate Payau bisa bikin penasaran, kenapa juga agak kontroversial, dan seperti apa rasa serta keberadaannya sekarang.
Sate Payau berasal dari kata “payau”, yang dalam bahasa Dayak artinya rusa liar. Daging rusa ini dikenal lembut, rendah lemak, dan punya rasa manis gurih yang khas. Dibumbui rempah lokal, ditusuk dengan bambu, lalu dibakar dengan bara api dari kayu hutan—pengalaman kulinernya terasa autentik dan ‘liar’ dalam arti yang terbaik.
Biasanya, sate ini disajikan saat upacara adat, pesta panen, atau perayaan penting lainnya. Jadi, jangan bayangkan Sate Payau jadi camilan pinggir jalan seperti sate ayam di kota besar. Ini lebih mirip sajian sakral yang hanya muncul di momen-momen spesial.
Menurut penuturan Jalius, tokoh adat Dayak Meratus, “Sate Payau itu bukan cuma makanan, tapi simbol kebanggaan suku. Karena untuk mendapatkan rusa, dulu harus berburu dengan kearifan, tidak sembarangan.”
Nah, ini bagian yang mulai kompleks. Daging rusa memang menggoda, tapi sejak beberapa tahun terakhir, statusnya jadi lebih “hati-hati”. Di Indonesia, perburuan rusa liar dibatasi, karena populasinya di alam mulai berkurang. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam pun mengatur bahwa rusa adalah satwa yang dilindungi di banyak daerah, terutama jenis Rusa Bawean dan Rusa Timor.
Namun, di beberapa kawasan tertentu di Kalimantan, tradisi masyarakat adat masih diizinkan berburu untuk keperluan upacara dan konsumsi terbatas, tentunya dengan pengawasan.
Kalau kamu penasaran mencicipi Sate Payau tapi tetap ingin menjaga kelestarian hewan, ada alternatif berupa daging rusa hasil penangkaran resmi. Beberapa peternakan di Kalimantan dan Sulawesi mulai mengembangkan budidaya rusa untuk keperluan kuliner, tanpa merusak ekosistem.
Rasanya Gimana?
Bayangkan rasa daging sapi muda, tapi lebih manis dan tidak terlalu berlemak. Aromanya kuat, apalagi saat dibakar dengan bumbu khas Dayak yang kaya rempah seperti lengkuas, kunyit, kemiri, dan bawang merah. Dagingnya empuk, tapi tetap terasa tekstur khas hewan liar.
Biasanya, sate ini disajikan bersama sambal terasi atau sambal asam khas Kalimantan, dan seporsi nasi ketan atau nasi merah hutan. Paduannya benar-benar bikin lidah berpesta.
Sate Payau Kalimantan bukan cuma soal makanan. Ini cerita tentang hubungan manusia dengan alam, warisan budaya Dayak, dan cara hidup yang menghargai keberlangsungan lingkungan. Bagi para pecinta kuliner nusantara sejati, mencoba Sate Payau (dari sumber yang legal dan berkelanjutan) bisa jadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan.
Tapi ingat, kelezatan tanpa kesadaran bisa membawa dampak serius. Mari dukung kuliner lokal yang lestari—nikmati dengan bijak, hargai tradisi, dan jangan sembarang konsumsi tanpa tahu asal usulnya.







